Pasangan Yang Tak Perlu Dipertahankan

2 Hari lalu saya kedatangan seorang client yang meminta untuk Life Coaching, masalah yang sama dengan puluhan orang yang saya hadapi, masalah hubungan yang tak direstui orang tua, bingung antara melanjutkan atau menyudahi, bila menyudahi kasian pasangannya, takut terjadi apa2, do'i stress banget, takut nekat, do'i sampai gak mau makan berhari-hari dll. Maka saya beri dia beberapa pertanyaan.

Me : bukankah kamu mencari pasangan yang mampu mendampingi menggapai ridho Allah?

Client (Cl) : iya

Me : bukankah ridho Allah ada pada ridho kedua orang tua?

Cl : Iya

Me : Lalu bagaimana mungkin dia bisa membersamaimu menggapai ridho Allah bila dia saja tidak ridho dengan ridho orang tuanya? bagaimana mungkin dia menjadi pasangan yang membersamaimu menuju syurga bila dia tidak mau menempuh jalan menuju syurga?

Cl : iya gak mungkin

Me : Bukankah kamu mencari pasangan yang mampu menguatkan, yang mampu menempuh dan melewati segala badai kehidupan hingga kalian bisa sukses menggapai segala impian?

Cl : iya tentu saja

Me : Bukankah besarnya anugerah berbanding lurus dengan besarnya anugerah? jadi semakin besar anugerah yang kita minta maka semakin besar pula ujian yang akan kita dapatkan?

Cl : Iya

Me : Lalu mungkinkah dia bisa menjadi pasangan yang kau harapkan, sedangkan baru masalah seperti ini saja dia sudah putus asa? sedangkan ujian setelah berumah tangga akan jauh lebih besar, sebab kalian tidak hanya menyatukan rejeki, tapi juga menyatukan ujian kalian, dan menyatukan ujian keluarga kalian!

Cl : Tidak mungkin, tapi bagaimana kalau dia sampai nekat dan terjadi sesuatu sama dia?

Me : Memang yang menentukan hidup mati seseorang kamu?

Cl : Bukan

Me : Bukankah setiap orang yang sudah baligh menanggung dosanya masing-masing? bukankah kita yang punya akal, kita yang punya rasa, kita yang punya jiwa dan kehidupan, jadi siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab terhadap diri kita? termasuk dia

Cl : diri sendiri, jadi saya harus bagaimana?

Me menurutmu kamu memilih mana mengorbankan hidupmu demi dia, mengorbankan kebahagiaan orang tua yang telah membesarkanmu demi dia, atau kamu melanjutkan hidupmu dan membahagiakan orang tua yang sejak sebelum kau lahir berjuang mati-matian demi kebahagiaanmu?

Cl : Melanjutkan hidup.

Bisa jadi Apa yang terjadi saat ini, adalah cara Allah menunjukkan kualitas pasanganmu yang sebenarnya, ingatlah lelaki yang mudah putus asa bukanlah calon imam yang baik, bagaimana mungkin dia menjadi pemimpin, pelindung dan tulang punggung keluarga, membaahagiakan keluarga apalagi membawamu ke syurga sedangkan dia sendiri tak mampu memimpin dirinya, menggantungkan hidup dan kebahagiaannya pada orang lain, bahkan rela mengorbankan kebahagiaan orang tuanya demi orang yang baru saja dikenalnya? begitupun wanita yang mudah putus asa bukan lah calon istri yang baik, bagaimana dia bisa menguatkanmu kalau dia begitu lemah? bagaimana dia bisa mendidik anak-anakmu menjadi generasi yang kuat kalau dia begitu mudah mengeluh dan putus asa? bagaimana dia akan membersamaimu ke syurga kalau dia rela membuang syurga demi dirimu? bila keluarganya dan orang tuanya saja mampu dia tinggalkan demi kebahagiaan pribadinya, adakah jaminan suatu saat dia tidak melakukan hal yang sama pada keluarga yang telah kalian bangun?

Bismillah Tawakkaltu 'alallah la hawla wala quwwata illa billah


Salam
Donie Pangestu
Coach, Trainer & Social Worker 
Founder Gradasi Foundation

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar