Main Monopoli Sama Tuhan


Kebiasaan kalau malem minggu anak-anak muda di daerahku dulu itu pada kumpul-kumpul, menikmati malam yang bisa dinikmati lebih panjang karena besoknya gak ada kewajiban bangun pagi, jadi pada melek bergadang semaleman sampai waktu mendekati shubuh, biasa nya diisi main berbagai permainan kalau gak main monopoli yah main kartu remi atau main poker. Dalam setiap permainan pasti aja ada masanya kena bully, saling ejek, saling ngetawain itu udah biasa, kalah menang juga udah biasa, yang kalah kena hukuman yang menang dapet hadiah. 

Kalau sadar itu cuman permainan kita nikmati semua prosesnya tanpa beban, yang menang dan membully tertawa yang kalah dan dibully pun tetap bisa tertawa. Kadang ada yang dibawa serius, akhirnya main pake emosi, coba-coba main curang, demi bisa menang dan biasanya emosi kalau pas dibully. meski permainan tetep pake strategi, sejago apapun pemain peluang kalah selalu ada, karena selalu ada faktor tak terduga selama permainan, dalam monopoli misalnya, ada kartu kesempatan dan dana umum, kadang kita dpet kartu yang nguntungin kadang kartu yang ngerugiin, begitupun dengan jumlah angka dadu, dan gimanapun usaha menang seorang pemain akan bersinggungan dengan usaha menangnya pemain yang lain.

Sebenernya hidup juga sama halnya dengan permainan-permainan di atas kok, seperti main monopoli aset dan harta yang kita punya kan tetep milik bank, yang menang saat selesai permainan semua aset dikembaliin kan, semua aset itu kita punya hanya selama dalam permainan, kuasa tertinggi itu tetep bank yang punya aturan main, dalam menjalankan hidup sama seperti melempar dadu kita tak pernah tau angka berapa yang akan keluar, kita hanya berusaha melempar sebaik mungkin, apapun hasilnya yah kita jalani, meskipun didalam perjalanan kita tetep main strategi, karena itulah seninya permainan, tentang seni berstrategi dalam menikmati proses dalam permainan.

Dalam monopoli kehidupan Bankir nya itu Tuhan yang memiliki semua aset dan aturan main, kita pemainnya. Celakanya sama dengan orang-orang yang bermain monopoli, ada saja yang memainkannya terlalu serius, emosinya ikutan main, jadi kalau kalah atau hasilnya gak sesuai dia kecewa, stress, emosi, mencoba main curang dan halalin segala cara demi bisa menangin permainan, kalau dibully atau dikalahin temen mainnya emosi dan bawaannya pengen balas dendam, akhirnya lupa kalau itu hanyalah sebuah permainan dan bully membully dalam permainan hanyalah senda gurau belaka. 

Begitu juga hidup ini, kehidupan ini sebenarnya hanyalah permainan dan senda gurau belaka, seperti bermain monopoli, semua aset yang kita miliki itu milik Allah Sang Bankir, beres permainan kita kasih lagi ke Allah, setiap usaha kita sekali lagi seperti melempar dadu yang tak pernah tau apa hasilnya, adapun ilmu yang kita punya adalah untuk bermain strategi mengelola nikmat Tuhan berupa aset dan untuk menyiasati hasil dari setiap lemparan dadu agar kita bisa tetap bertahan supaya bisa terus ikut dalam permainan, selalu banyak hal tak terduga dalam kehidupan ini, yang jelas ingatlah semua hanyalah permainan. Apapun mimpi kita Bismillaah lempar dadu dan apapun hasilnya nikmati saja, tekanan apapun yang didapat terima saja dengan canda tawa karena itu hanyalah senda gurau belaka, apapun yang terjadi nikmati saja, jangan dibawa serius yang penting ikuti aturan main. 

Bedanya bila kita bermain monopoli sama Tuhan siapapun yang bertahan menikmati permainan secara fair sampai akhir, sehabis selesai permainan dalam kehidupan sebenarnya di akhirt Allah kasih hadiah, di traktir masuk Syurga, hidangan di dalamnya all you can eat, dengan full facilities dan full service.

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (Al-Ankabut : 64)

Salam
Donie Pangestu
Coach, Trainer & Social Worker 
Founder Gradasi Foundation

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar