Persimpangan


"Itulah kehidupan kang, selalu ada 2 sisi kiri dan kanan, begitupun karakter dan perilaku manusia selalu dua golongan, ada golongan kanan dan ada golongan kiri, ada golongan yang baik dan ada golongan yang buruk, ada yang sukanya berburu cahaya ada yang lebih senang dalam kegelapan, ada yang sukanya mengamalkan dalil ada yang sukanya mendalili amal, ada yang sukanya membiasakan kebenaran dan ada yang gemarnya membenarkan kebiasaan.
Dipandang hina manusia hanya karena usahamu untuk taat bukanlah sebuah dosa bahkan sesungguhnya engkau telah meniti tangga kemuliaan, yang hina itu justru kau berbuat dosa hanya demi dipandang mulia, namun kesibukanmu untuk menjadi pribadi yang taat tidaklah menjadikanmu berhak merasa mulia dan memandang hina orang yang tampak tak taat.
Kesibukanmu mencari penilaian baik manusia sesungguhnya itulah lautan penderitaan dan kesusahan hatimu, kamu akan terjebak pada hati yang lelah tiada henti, sebab adalah hal yang sangat mustahil membuat setiap manusia setuju dan suka padamu, sebaik-baik manusia pasti akan selalu ada yang tak menyukai bahkan membenci, sejahat-jahat manusia pasti selalu ada yang menemani, mencintai bahkan menjadikannya panutan. Selama kita hidup di dunia maka selama itu pula kita selalu berada di persimpang.an jalan yang kita tidak pernah benar-benar tahu ujung jalannya berakhir di mana dan jalannya seperti apa, tugas kita hanya memilih jalan dan menempuh perjalanannya.
Lebih baik sibukkan dirimu menjadi pribadi yang berguna dan bermanfaat untuk sesama dan lingkunganmu, bukankah manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat? bukankah Kanjeng Nabi diutus untuk menjadikan kita manusia yang menjadi rahmat bagi semesta? Ketahuilah saat dirimu mampu begitu banyak memberi manfaat dan menciptakan banyak kebahagiaan, akan banyak orang yang mencintaimu tanpa memandang apa agamamu!" Jelas Kang Sadar pada Kang Nasib yang geleng-geleng kepala merasa heran melihat berita para penunggag kuda besi mewah yang marah karena jalannya dihadang di lampu merah oleh seorang pemuda jelata dengan sepeda kayuhnya.

Pertapaan Aster 81

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar