2 Minggu - 2 Jam

Saat Allah berkehendak tak ada yang mampu mencegah kehendak-Nya ataupun mempercepat kehendak-Nya. Begitulah yang terjadi dengan kisah pernikahanku dengan istriku, hanya perlu waktu 2 Minggu dari awal bertemu hingga akad nikah dan 2 jam dari khithbah menuju akad nikah.

Yah terbilang sangat singkat memang pertemuan kami, semuanya berjalan begitu cepat, pertama kami bertemu senin 14 maret 2016 saat ada pertemuan antar 2 komunitas di kantor saya untuk membahas kerjasama dalam aksi tanggap bencana banjir yang terjadi di Kab. Bandung saat itu, kami berdua sama-sama sebagai pendiri komunitas, seminggu berjalan sama-sama berjibaku membantu para korban banjir, tak sedikitpun di dalam pikiran kami bahwa kami adalah jodoh yang dipertemukan oleh Allah, selama seminggu kegiatan berlangsung tak ada sedikitpun komunikasi pribadi di antara kami berdua, kecuali komunikasi alakadarnya menyangkut kegiatan.

Baru setelah program bantuan untuk korban bencana banjir selesai, keesokan harinya, tepatnya hari senin 21 Maret 2016 kami berkomunikasi secara pribadi, berawal dari membahas hasil kegiatan hingga kami mulai sharing pengalaman hidup kami masing-masing yang sama-sama amazing, yang sama-sama pernah mengalami masa berhadapan dengan kematian, cerita terus mengalir tak terbendung, seperti arus air yang mengalir tanpa halangan, hingga hari selasa sore tiba-tiba entah apa yang saya pikirkan, saya langsung bertanya lewat whatsapp dengan to the point kesediaannya menjadi istri saya.

Jawabnya saat itu minta waktu 2 hari untuk istikhoroh, dan hanya 1 hari jawaban kesediaannyapun sudah disampaikan, sore itu juga pada hari rabu 23 Maret 2016 saya datang menemui orang tuanya diantar adik saya, dengan modal Bismillah, saya bilang jujur saya tidak punya pekerjaan tetap, tabunganpun saya tak punya, dan saya tulang punggung untuk keluarga saya, tapi kurang ajarnya saya minta menikah segera. Qodarullah kedua orang tua Istri hanya menjawab "Rejekimah Allah yang Ngatur" dan disepakatilah kami akad nikah dan syukuran sederhana hanya mengundang kerabat dan sahabat pada tanggal 10 April, setelah menghitung proses pengajuan nikah ke KUA.

Kamis 24 April saya mengurus NA ke RT/RW hingga KUA setempat, dan istri saya berkunjung ke rumah berkenalan dengan orang tua saya. Disepakati hari minggu 27 maret kami sekeluarga akan datang untuk melamar secara resmi.

Sabtu 26 Maret, saat itu saya harus membayar biaya KUA, saat itu saya belum memegang uang, sebab semua dana yang ada sudah dialokasikan untuk kewajiban kantor, untuk orang tua, untuk pondok pesantren dll, dana pribadi telah habis, tagihan kebetulan pending semua, eh Allah berkehendak siang itu juga rejekinya ada lewat jalan yang tak disangka-sangka, langsung ditransfer, cari rental mobil mendadak di hari sabtu ternyata tidak mudah, eh Allah gerakkin hamba-Nya untuk meminjamkan mobilnya dengan bahan bakar yang sudah terisi penuh, bahkan karena saya tidak berfikir besok adalah hari pernikahan saya, ah hanya acara lamaran saja, saya tidak mempersiapkan apapun, hingga akhirnya sahabat saya membelikan pakaian untuk acara lamaran saya itu.

Minggu 27 maret 2016, shubuh sekali saya berangkat menuju purwakarta menjemput kakek sekaligus guru saya KH. Munzilin, untuk menjadi wakil keluarga, setelah menjemput kakek kami langsung berangkat menuju rumah keluarga istri di Banjaran, cuaca yang biasanya hujan deras setiap hari, pada hari itu sangat cerah, jalan yang biasa luarbiasa macet hari itu lancar jaya.

Kami datang disambut sangat hangat keluarga inti dari istri, dengan jamuan alakadarnya, setelah proses khithbah selesai Kakek saya meminta saat itu juga dilangsungkan akad nikah, tak ada yang tak kaget, akhirnya keluarga istri berembug, kemudian menyerahkan semuanya pada kami berdua, dengan tanpa keraguan saya menyatakan kesiapan saya. Tokoh setempatpun diundang untuk menjadi saksi, ketua DMI (DKM), Ulama setempat dan penghulu.

Ketua DMI yang biasanya menentang praktik seperti ini diluluhkan hatinya, penghulu yang biasanya sangat sulit ditemui hari itu mendadak bisa dan bersedia dijemput, untungnya saya sudah membawa surat NA dari KUA tempat tinggal saya.

1 lagi tantangannya, karena tak ada persiapan sama sekali kami tidak membawa uang cash untuk dijadikan mas kawin, jarak ke ATM pun cukup jauh, akhirnya saya teringat sudah mentransfer uang untuk biaya KUA ke rekening istri saya, jadi saya minta izin uang itu dulu yang digunakan, daripada di akad nikah nanti maskawinnya dibayar ngutang.

Alhamdulillah akad nikahpun berhasil dilangsungkan dengan begitu khidmat dan penuh kesederhanaan, tepat 2 jam setelah acara khitbah dengan kalimat Ijab Kabul yang tidak biasa.

"Saya Terima Nikahnya Tita Rosita Binti Pepen Supendi Dengan Mas Kawin Uang Sejumlah 777.000 Rupiah MASIH Di ATM Dibayar Kontan."

Dan 2 Minggu kemudian 10 April 2016 yang seharusnya menjadi tanggal akad nikah kami tiba-tiba menjadi tanggal resepsi pernikahan yang tidak direncanakan, dan prosesnyapun di luar jangkauan akal dan kemampuan kami.

Pada akhirnya menikah itu masalah takdir, manusia hanya bisa berencana dan berusaha, tetap Allah juga yang punya kuasa, bila sudah saatnya menikah maka kita akan menikah, tak perlu resah oleh usia yang terus bertambah, tak perlu takut dengan penghasilan dan tabungan yang belum cukup, tak sedikit yang bermimpi menikah di usia muda sebelum usia 25 tapi usia 40 baru terlaksana, tak sedikit yang berencana menikah setelah 30 tahun eh belum 25 sudah menikah, tak sedikit yang sudah mapan namun tak juga punya pasangan, dan banyak yang penghasilannya pas-pasan malah cepat menikah dan punya banyak momongan.

Bila belum saatnya sekeras apapun kita berusaha tetap tak akan terlaksana, mau dicomblangin sekeras apapun kalau Allah tidak berkehendak yah tetep gak akan jadi, sehebat apapun makcomblang yang ngebantu comblangin, sebelumnya 3 kali saya sudah melamar anak orang, 3 kali pula tidak jadi, malah salah satunya H-10 menuju akad nikah, tapi yang tanpa persiapan dan tak lama kenal malah langsung jadi, dan Allah memberi sesuai dengan apa yang saya minta. Jodoh itu Jorok dan bodoh, Jorok tak melihat tempat ketemunya di mana dan kapan waktunya, bodoh seringkali tak melihat siapa dan bagaimana orangnya? Terus saja berdo'a dan berusaha, sisanya serahkan pada Allah, pesan guruku modal terbesar untuk yang mau menikah itu pasrah, masalah biaya Allah yang akan mencukupkan.

Bismillah Tawakkaltu 'alallah la hawla wala quwwata illa billah



Salam
Donie Pangestu
Coach, Trainer & Social Worker 
Founder Gradasi Foundation

Share this:

CONVERSATION

2 komentar:

  1. Allahu Akbar..
    Kisah yg luar biasa & tak diduga bisa mnjadi takdir yg bgtu indah meski dg brbagai ktdk siapan tp Allah yg mnckupkn n mlancarkn..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah Janji Allah bagi orang-orang yang berserah diri, Dia berikan rejeki dari jalan yang tak disangka-sangka... semoga kita mampu menjadi hamba yang berserah secara kaffah

      Hapus