Nabi Daud dan Seekor Ulat


Begini Kang ada cerita yang bisa kita jadikan pelajaran. "Saat itu Daud As. sedang begitu asyik membaca kitab Zabur di pangkuannya. Selang beberapa waktu seekor ulat merah muncul melata tepat di hadapannya. Daud yang kala itu sedang menikmati kalam Tuhan pun merasa sangat terganggu dengan kemunculan sang ulat. Ia pun menggerutu, "Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?"

Kemudian, sambil mencungkil mahluk kecil dan lemah yang ada di hadapannya, Daud berkata, “Adakah kau mampu memberikanku manfaat hingga aku harus membiarkanmu mengganggu kenikmatanku membaca kalam Tuhan?” Dan, setelah ulat itu berhasil disingkirkan, tiba-tiba terdengar suara gaib menghampiri Daud, “Tahukah kau, Daud bahwa ulat ini sedang mengagungkan asma-Ku? Tahukah kau Daud bahwa ulat kecil yang kau anggap remeh ini sesungguhnya sedang bertasbih kepada-Ku? Tahukah kau, Daud bahwa ulat yang kau anggap tak memiliki manfaat apapun ini sesungguhnya sedang melakukan proses keseimbangan alami kehidupan di bumi yang kau pijak ini?”

Nabi Daud pun segera tersadar bahwa ia telah memandang sebelah mata kehadiran ulat tersebut. Seekor ulat yang sejatinya dianggap sangat kecil dan tak berguna, di hadapan Tuhan bisa jadi lebih mulia dan terhormat. Seekor ulat yang kerap dianggap menjijikan dan merugikan, sesungguhnya hadir di hadapan kita dengan rute kehidupan tersendiri, yang sengaja Allah ciptakan guna menyeimbangkan alam.

Tidak ada sesuatupun yang Allah ciptakan sia-sia, bahkan hal yang paling menjinjikan dan membahayakan sekalipun, ada fungsi dan hikmah yang Allah ciptakan bersamanya.

Bayangkan Kang seorang Nabi, yang terkenal dengan kemampuan berpuasanya dalam bertaat kepada Allah,yang syari'at puasanya hingga menjadi puasa terbaik yang Nabi Muhammad sebutkan,seorang Nabi yang dikenal dengan ketaatan dan kemampuan ibadah serta tirakatnya yang sangat luar biasa, hingga mendapat anugerah berupa kitab suci, pun mendapat teguran dari Allah akibat telah merasa lebih baik dan lebih berguna dari mahluk lain walaupun itu hanya seekor ulat, Lantas, bagaimana dengan kita manusia yang tak sedetikpun luput dari lupa dan lalai? Yang tak ada hari dilalui tanpa limpahan dosa, sering merasa diri begitu tinggi, bahkan dengan bangga mengklaim diri sebagai mahluk paling mulia?

Tak sadar seringkali muncul rasa jijik saat melihat seseorang yang menurut pandangan kita sebagai ahli maksiat, hanya karena kita tidak melakukan itu, atau kita merasa rajin beribadah, padahal andai saja Allah bukakan seluruh aib kita, niscaya sangat malulah kita, sebab begitu banyak keburukan dan aib diri yang akan nampak.

Bisa jadi mereka yang kita anggap hina namun di sisi Allah memiki kedudukan yang jauh lebih tinggi
dibandingkan kita seperti halnya seorang pelacur yang memberi minum seekor anjing yang sekarat.

Ingatlah kesombongan itu seperti percikan api yang mampu menyebabkan hutan belantara habis terbakar tak bersisa, sedang setitik kesombongan dapat membakar habis kebaikan dan kebahagiaan hidup kita tanpa sisa.

Rendahkanlah selalu hati tanpa merasa diri rendah hati, sebab hikmah, ilmu dan keberkahan itu hanya akan mengalir pada hati yang selalu merendah, seperti halnya air yang hanya akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Semoga kita dianugerahi hati yang selalu merendah tanpa terbersit sedikitpun rasa diri rendah hati." Tegur Kang Sadar pada Kang Abdul.

Secangkir Wedang Jahe

Salam
Donie Pangestu
Coach, Trainer & Social Worker 
Founder Gradasi Foundation

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar