Belajar Dari Mak Arum

Namanya Mak Arum, seorang wanita jompo berusia 70 tahunan janda tanpa seorang anakpun, mengidap penyakit asma kronis, berjalanpun sudah tertatih dan tergopoh, hidup menumpang di gubuk adiknya yang juga sudah tidak muda dan bekerja serabutan.

Ada yang luar biasa dari sosok Mak Arum ini, yang membuat kami malu saat kami menyerahkan dana titipan untuk disalurkan, saat kami ke sana kami melihat beliau sedang membuat rempeyek untuk dijual, meskipun kondisi kesehatan beliau yang sudah sangat ringkih, beliau tak pernah mau hidup bergantung pada orang lain.

Untuk bertahan hidup beliau membuat rempeyek untuk kemudian beliau jual berkeliling, dengan langkah yang terseok-seok, terbungkuk-bungkuk, dan harus sering berhenti setiap beberapa langkah karena sesak nafas akibat asma kronis yang dideritanya, tapi semangat hidup dan semangat juangnya mengalahkan segala keterbatasannya, tak ada raut putus asa dalam wajahnya.

Satu hal lagi yang membuat kami takjub, saat kami melihat ada seuntai perhiasan kalung emas, kami bertanya : "Mak itu kalungnya gak dijual buat modal atau makan?" beliau menjawab : "Nggak, kalung ini tabungan kalau emak meninggal, buat yang ngurus jenazah emak biar gak ngerepotin". Ah bahkan beliau dengan Ikhlashnya sudah mempersiapkan menyambut kematian yang sewaktu-waktu datang kepadanya.

Saat kami serahkan sedikit bantuan untuk Mak Arum, begitu banyak untaian do'a mengalir dari lisannya untuk kami. Semoga do'a-do'a terbaikmu untuk kami Allah kabulkan, dan semoga Allah ganti segala keikhlashan, perjuangan dan kesusahanmu di dunia ini dengan kebahagiaan yang kekal di syurga Firdaus kelak.

Terima kasih MAk Arum sebab engkau telah mengajarkan kami tentang Syukur dan keikhlashan, tentang perjuangan dan pantang menyerah apalagi putus asa.

Salam
Donie Pangestu
Coach, Trainer & Social Worker 
Founder Gradasi Foundation

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar