Membakar Diri



"Lihatlah tumpukan jerami kerang di dalam gudang ini, seandainya kita lemparkan sepotong kecil arang yang masih membara ke tumpukan jerami kering itu, niscaya bara kecil itu akan membakar tumpukan jerami sedikit demi sedikit lama-lama api itu menjadi kobaran api yang sangat besar, hingga mampu membakar habis semua tumpukan jerami itu, bahkan tidak hanya tumpukan jerami saja yang terbakar, bila api tidak cepat dipadamkan, rumah beserta ladang dan semua yang ada disekitar gudang ini akan bisa ikut terbakar juga.

Begitupun dengan hati kita, tumpukan jerami kering itu ibarat hati kita, dan bara api itu sama dengan amarah, dendam iri, dengki dan kesombongan, gudang itu ibarat hidup dan kehidupan kita, bila kita simpan saja bara itu dalam hati kita, maka bara amarah, benci, dendam, iri dan dengki itu akan membakar hati kita, lambat laun akan membakar hidup dan kehidupan kita, kebahagiaan kita, karir dan pekerjaan kita, bahkan tidak menutup kemungkinan membakar semua yang berada disekeliling kita, keluarga kita, saudara kita, tetangga, kerabat dan teman-teman kita.

Itulah kenapa neraka itu disebut sebagai api yang membakar dan bergejolak, karena dari itu kalau tak ingin hidupmu bagai neraka, jangan kau simpan bara amarah, benci, dendam, iri, dengki, sombong, rakus dan penyakit hati lainnya, perbanyaklah istighfar, perbanyaklah berdzikir, perbanyaklah berbagi dan menebar kasih sayang karena hal itu akan menyejukkan, mendamaikan, menenangkan gejolak dan memadamkan api amarah." Sambil mengajak jalan-jalan ke ladang adik bungsunya yang mulai beranjak remaja Kang Sadar memberinya nasihat.

Segelas Kopi Rolling Stone dan sepiring roti sumbu.

Salam
Donie Pangestu
Coach, Trainer & Social Worker 

Founder Gradasi Foundation

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar